Atrial Fibrilasi (AF)

22 Maret 2018 by Humas RSI

 

 

 

 

 

Denyut Jantung Tidak Teratur Bisa Menyebabkan Stroke :

Mengenali & Mewaspadai Atrial Fibrilasi (AF)

 


 

Oleh : Dedie Setiadi, Sp.JP, FIHA

Atrial Fibrilasi (AF) merupakan salah satu permasalahan kesehatan jantung di Indonesia saat ini dan di masa yang akan datang. Gagal jantung dan stroke merupakan komplikasi tersering AF yang dapat mengakibatkan disabilitas berat dan menetap. Walaupun lebih banyak terjadi pada usia tua tetapi proporsi AF yang bermakna terjadi pada usia muda

Apa yang dimaksud dengan AF?

Atrial Fibrilasi adalah kelainan irama yang ditandai dengan denyut yang sangat irregular (tidak teratur). Atrial Fibrilasi terjadi akibat gangguan pada pembentukan impuls listrik jantung. Dalam keadaan AF terjadi pembentukan impuls listrik yang sangat banyak di serambi jantung. Terdapat lebih dari 450 impuls yang terbentuk dalam satu menit. Padahal dalam keadaan normal (irama sinus) hanya terdapat satu sumber pembentuk impuls yang menghasilkan sekitar 60-90 impuls per menit saat istirahat. Pembentukan impuls yang demikian banyak pada AF akan menyebabkan regularitas denyut jantung karena impuls terbentuk secara tidak beraturan.

Atrial Fibrilasi bisa dikelompokkan menjadi AF Paroksismal dan AF Peristen. Pada AF Paroksismal, AF masih bersifat on-off. Umumnya pasien dalam irama sinus (normal) tetapi kadang-kadang muncul AF. Pada AF Persisten, pasien terus menerus dalam irama AF.

Keluhan yang dirasakan oleh penderita AF

Walaupun keluhan AF cukup bervariasi tetapi umumnya pasien mengalami episode berdebar. Yang khas pada keluhan berdebar tersebut adalah denyut jantung atau perabaan nadi yang tidak teratur baik frekuensi maupun kekuatannya. Bila mencoba meraba denyut nadi sendiri, pasien AF sering mengatakan ada denyut yang hilang dan tidak teratur. Pasien dengan AF merasakan denyut jantung yang mudah meningkat pada aktifitas yang ringan sekalipun. Akibatnya kemampuan fungsionalnya menurun yaitu pasien mudah merasa lelah pada aktifitas fisik yang meningkat. Bila AF disertai dengan peningkatan pada hormon tiroid, pasien terlihat kurus dan gemeteran (tremor). Tidak jarang pasien mengeluh nyeri dada. Dalam hal ini perlu dicari tahu kemungkinan suatu penyakit jantung koroner sebagai penyakit penyerta.

Diagnosis AF

Diagnosis AF sangat mudah yaitu dengan perekaman irama jantung menggunakan mesin Elektrokardiografi (EKG). Pada gambaran EKG, AF memiliki karakteristik yang khas. Alat lain yang dapat digunakan adalah perekam monitor Holter. Alat ini dapat dikenakan 7 hari sampai beberapa minggu yang memberikan hasil akurat mengenai irama jantung bahkan saat sedang tidur.

Seberapa seringkah kejadian AF ?

Atrial Fibrilasi merupakan salah satu penyakit yang paling banyak terjadi di dunia, sehingga dikatakan sebagai epidemicglobal. Berdasarkan berbagai survey, kejadian baru AF antara 2-3 kasus per 1000 orang per tahun pada usia antara 55 sampai 64 tahun. Pada populasi usia 85 hingga 94 tahun, kejadian baru AF mencapai 35 kasus per 1000 orang per tahun. Bayangkan betapa banyak orang yang menderita AF di dunia, termasuk di Indonesia dengan jumlah penduduk yang melebihib 220 juta orang.

Peningkatan kejadian AF dengan bertambanhya usia menunjukkan peran proses aging dalam mekanisme terjadinya AF. Oleh karena itu AF dikatakan sebagai salah satu aging disease yang paling sering ditemukan. Lebih dari 60% pasien AF juga menderita Hipertensi. Tidak jarang AF ditemukan pada penderita yang lebih muda (<50 tahun) dan biasanya tidak berkaitan dengan hipertensi maupun penyakit yang lain.

Bahaya AF

Walaupun tidak secara langsung menyebabkan kematian, AF menyebabkan ketidakmampuan (disabilitas) yang lebih bermakna. Lebih dari 20% Stroke non-Hemoragik (tanpa pendarahan) berkaitan dengan AF. Ketidakteraturan dan frekuensi denyut jantung menyebabkan darah menjadi statis di serambi jantung sehingga terjadi gumpalan darah. Bila gumpalan darah ini lepas, umunya akan tersangkut di pembuluh otak sehingga menyebabkan stroke. Orang dengan usia lebih dari 75 tahun, AF merupakan satu-satunya faktor yang paling berhubungan dengan kejadian stroke.

Bila laju denyut jantung pasien AF sering cepat maka lama kelamaan akan menyebabkan jantung soak sehingga kemampuan pompa jantung menurun. Hal ini mengakibatkan gagal jantung, yaitu jantung menjadi bengkak dan lemah.

Apa yang dapat dilakukan bila menderita AF ?

Pada umumnya AF dapat diatasi dengan pengobatan. Bila AF masih bersifat hilang timbul (Paroksismal), maka minum obat yang teratur dapat mengontrol AF dengan baik dan mempertahankan irama sinus. Pada AF menetap (persisten) obat-obatan digunakan untuk mengontrol laju denyut jantung agar tidak berlebihan. Mengontrol laju jantung sangat penting pada pasien AF karena berkaitan dengan kemampuan fungsional fisik pasien. Selain pengobatan, AF juga dapat dilakukan tindakan intervensi berupa Ablasi dan pemasangan payung kuping serambi kiri jantung (Left Atrial Appendage Closure). Tindakan intervensi ini bukan operasi, tetapi dilakukan di ruang kateterisasi jantung.

Pasien AF juga perlu minum obat pengencer darah. Hal ini dimaksudkan agar tidak terbentuk gumpalan darah di serambi jantung yang dapat menyebabkan stroke. Tetapi bila AF sudah kembali menjadi sinus setelah tindakan ablasi, maka obat pengencer darah dapat dihentikan 1 bulan kemudian. Bila pasien AF juga menderita hipertensi, maka sangat penting untuk mengontrol tekanan darah di bawah 140/90 mmHg. Tekanan darah yang terkontrol akan lebih lama mempertahankan irama sinus. Pemilihan obat hipertensi pada penderita AF tidak sama dengan penderita hipertensi biasa, dalam hal ini perubahan-perubahan struktur jantung perlu dipertimbangkan.

Pencegahan AF

Pola hidup yang sehat dengan menyempatkan olahraga yang teratur dan terukur, tidak merokok, dan minum alkohol berlebihan serta menghindari stress berlebihan sangat membantu untuk mencegah kejadian AF khususnya pada orang tua.

Lakukan pemeriksaan tekanan darah berkala dan kontrol hipertensi dengan baik. Tekanan darah yang baik adalah kurang dari 120/80 mmHg bagi mereka yang berusia 18 tahun keatas. Penderita hipertensi harus berusaha mengontrol tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Periksa kesehatan jantung secara berkala, lakukan rekaman jantung (EKG) untuk mengetahui ada/ tidak AF. Bila ada keluhan berdebar, rekaman jantung diusahakan dilakukan pada saat berdebar.

patient-safety

Keselamatan Pasien adalah
Prioritas Utama Dalam Setiap Layanan Kami.

Berita Terbaru

Copyright : RSI Sunan Kudus 2017.